Mereposisi Sampah Urban
July 11th, 2008 by aiknby : Dewi Hadin
Selama
mengikuti Kis – panggilan akrab Kiswinar – dalam proses berkaryanya, saya agak
terganggu dengan dampak berantakan yang dibawanya ke studio saya di daerah
Fatmawati. Puluhan kotak rokok merk Sampoera
Menthol, baik yang sudah kosong maupun yang masih ada isinya, tergeletak
sporadis. Ada yang di bawah meja, terselip diantara tumpukan kanvas, atau
secara tak sengaja menempel di kaki saya.
“Kiswinaar! Sampah-sampah loe
ngotorin studio guee!” omel saya suatu hari.
Sampah. Kotak-kotak rokok ini,
disadari atau tidak, adalah residu nyata dari perilaku konsumtif yang akrab
dengan budaya urban. Hal ini terjadi karena heterogenitas dalam urban telah
memberikan lahan subur bagi praktik kapitalisme untuk berkembang.
Dalam konteks budaya visual,
benturan-benturan yang terjadi dalam kehidupan kota menjadi inspirasi Kis untuk
berkarya. Sebagai respon kreatif nya, Kis mengolah beberapa kotak rokok itu
menjadi patung-patung kertas. Setelah disatukan dengan kertas koran yang
dilapisi lem, kemudian di cat dengan akrilik, bekas kemasan nikotin itu berubah
menjadi karya tiga dimensi.
“Memang kamu serius mau jadi
pematung, Kis?” Tanya saya.
“Bukan gitu mbak Dew. Lu tau kan gue
susah eksplorasi di media dua dimensi alias ga bisa gambaaar!”
Saya tahu problem yang di hadapi
Kiswinar ketika harus merespon gestur kedalam garis. Tapi keterbatasannya itu –
kalau tidak mau mengatakan “kurang latihan” – bukan alasan untuk tidak
berkarya.
Tengoklah karyanya yang pertama, “CHKN”.
Dengan merangkai kotak-kotak bekas rokok yang bentuknya jauh dari unsur organik
itu, Kis berhasil menangkap gestur ayam dan menghadirkannya dalam bentuk tiga
dimensi.
Karya lain yang cukup mengundang
senyum adalah “WTNG”. Kis nggak pernah
berhasil merekam bahasa tubuh manusia tiap kali belajar gambar model. Tapi di
karya ini, ekspresi “nggak sabar menunggu” nya bisa tersampaikan.
Salah satu karya favorit saya adalah “RSH”. Dekonstruksi kanon tubuh manusia menjadi
tanpa lengan dan tanpa kepala, berhasil dibawa Kis ke dalam kesan “berlari”
atau “terburu-buru”.
Proses
pembuatan patung kertas ini bukan saja menjadi sarana non-formal Kis untuk
mengenal, memahami, dan mengeksplorasi unsur-unsur dasar rupa. Tapi juga
memahami prinsip-prinsip perancangan Komunikasi Visual yang diperolehnya di
kampus.
Eksplorasi Kis yang paling dalam untuk membangun persepsi terlihat dalam
“RSH”. Berbeda dengan “WTNG” yang
berlebihan dalam penggunaan simbol (ikon jarum jam disekujur tubuh) ,
“RSH” menawarkan ruang interpretasi yang
lebih luas. Manusia dengan ekspresi tubuh berlari merepresentasikan
ketergesa-gesaan dalam kehidupan masyarakat urban. Ketiadaan kepala dan lengan,
bisa jadi merupakan cara Kis untuk menenggelamkan identitas individu kota
kedalam generalisasi, sebagai dampak dari globalisasi. Garis putus-putus
disekujur tubuh patung mengingatkan kita pada jalan raya, namun nggak menutup
kemungkinan untuk di interpretasikan lain. Mungkin saja Kis bercerita tentang
perjalanan pencarian identitas individu urban.
Di “CHKN”, walaupun symbol-simbol
pembentuk persepsi itu belum diolah lebih tajam, Kis tetap ngotot bahwa
karyanya itu masih ada hubungannya dengan fenomena urban. “Ayam kampus, mbak
Dew! Ayam kampuuus!” katanya berusaha meyakinkan.
Urban, heterogenitas, dan
konflik-konflik di dalamnya memang menarik untuk dijadikan gagasan berkarya. Tapi
memanfaatkan limbah fisik urban sebagai media berkarya juga patut diacungi
jempol. Apalagi kesadaran Kis untuk segera menyapu limbah karyanya di studio
saya. Nice
try, Kis!